Saturday, 26 January 2019

Doing Something



Senin tadi tanggal 21 Januari 2019 aku berangkat ke Solo untuk mengikuti kegiatan rekon keuangan dan BMN. Setelah segala sesuatunya telah dipersiapkan sedemikian rupa, barulah kami berangkat. Pesawat ke Yogyakarta berangkat pukul 06.30. Saya dan tim berangkat pukul 04.45an... Masih pagi.

Peralatan sudah dibawa, termasuk printer dan kertas, tinta, pakaian, dijadikan satu tas. Berita tentang bagasi berbayar masih simpang siur. Apakah masih diberlakukan gratis 10kg, atau sudah sama sekali no baggage. Modal nekat.

Dan ternyataa... di bandara Syamsudin Noor, bagasi lolos. Tidak dikenakan biaya sepeserpun. Berat timbangan tas sekitar 13 kg. Mungkin karena satu tiket ada 4 orang, jadinya terakumulasi jd 40kg free.

Selesai masalah bagasi, tinggal naik ke atas untuk menunggu keberangkatan.

Nothing problem. Kita berangkat jam setengah tujuh sesuai jadwal. Tiba di Yogya jam tujuh WIB. Sesambil berkompromi naik transport apa, kita memutuskan untuk nyari sarapan dulu.

Bandara jogya lumayan unik (karena baru pertama kali lihat bandara ada rel kreta apinya). Kita lewat bawah tanah untuk keluar. Sambil ngobrol2 kita memutuskan untuk coba2 naik kreta ke solo.




Kami pun mengecek ke loket stasiun. Murah meriah cuman 8rb. Jadwal keberangkatan sekitar pukul 09.22. Masih ada sekitar 2 jaman. Dua jam yah, bukan dua jamans.. kebetulan ada rumah makan depan terminal. Kita memutuskan untuk duduk di outdoor smoking area.

Setengah jam sebelum keberangkatan kita siap2 menuju stasiun. Wew. Kreta datang benar2 ontime.

Penumpang lumayan banyak. Kita gak kebagian tempat duduk. Keretanya seperti kreta antar propinsi jakarta malang. Dua kiri dua kanan berhadap-hadapan. Jalan tengahnya sempit. Sepertinya memang bukan didesain untuk angkutan antar kota. Tidak seperti commuter line yang tengahnya luas. Sehingga orang berdiri bisa muat banyak.

Karena kebagian bagian lorong tengah, jadinya saya tidak dapat melihat sawah-sawah dan gunung-gunung.

Sekitar pukul 10.15, tiba di Stasiun Solobalapan. Jalan menuju keluar stasiun tidak begitu jauh. Kita bisa langsung memesan taxi online.

Sekitar setengah jam tiba di Hotel Lorin D'Wangsa. Tempatnya lumayan. Sejuk. Ada akuarium besar di depan resepsionist. Isinya ikan arwana perak.

Kami langsung menuju ruang pertemuan di lantai 5. Tidak ada siapapun di situ. Setelah dicross cek acara dimulai pukul 13.00 wib

Kami menuju kamar hotel untuk menaruh tas.

Kamar terletak di lantai 4. Dengan nomor ruang 15. Jendela menghadap ke depan hotel. Banyak perumahan semi elite dengan type 90 tingkat dua. Perumahan itu masing masing memiliki arsitektur yang berbeda.
____

Hotel D'Wangsa memiliki interior seperti hotel pada umumnya. Lantai berkarpet, langit-langit yang tidak terlalu tinggi.

Selama menginap dsni, makan pagi siang dan malam sudah disediakan panitia. Kadang2 saya memesan gofood. Ada beberapa kuliner yang menarik. Salah satunya srabi. Rasanya unik. Seperti apam, tetapi memiliki texture yang lembut.
















Selama berada di Solo tidak sempat jalan-jalan. Fokus pada pekerjaan rekon.

Setelah selesai acara, tim rekon Disnav Banjarmasin menuju Yogyakarta. Penerbangan ke Banjarmasin hanya satu kali dalam satu hari. Jadinya kami menginap di Yogyakarta.

Hotel Whiz yang terletak di jalan Dagen, sebuah jalan kecil di persimpangan Malioboro. Hotelnya lumayan sejuk. Ketika masuk ke lobi tercium aroma melati. Berasa seperti di Nakamura. Nuansa hijau mendominasi interior dalannya.

Setelah selesai istirahat, saya iseng membuka henpon. Cek medsos dan berita berita terkini. Berita tentang penghapusan tarif bagasi lionair terpampang di wall. Langsung saya cek ke CS lion. Dan benar, penumpang tidak diberikan bagasi gratis. Hanya tas jinjing dengan maksimal 7 kg yang boleh dibawa naik. Mereka menyarankan untuk membeli voucher bagasi agar harganya lebih murah. Sayangnya untuk pembelian voucher tidak dapat dilakukan online. Harus di kantor perwakilan Lionair. Ini yang tidak asik. Voucher bisa dibeli dengan agen travel online ketika melakukan booking. Jika lupa membeli saat booking, maka harus ke kantor perwakilan untuk pembelian voucher.



Setelah mendapatkan driver gojek, saya langsung berangkat menuju bandara Adisucipto. Waktu tempuh sekitar 1 jam. Sore itu waktunya macet.

Tiba di bandara langsung ke Lionair. Tidak antri. Voucher bagasi 15kg dikenakan biaya Rp255.000.

Setelah beres, lanjut mencari toko sparepart komputer. Barang yang dicari adalah kabel mini hdmi ke hdmi. Setelah browsing di google, dapat toko sparepart buana komputer. Langsung pesan gojek lagi. Lokasi penjemputan di depan kampus UIN.

Setelah berhujan-hujan, kami tidak dapat menemukan toko komputer itu. Entah alamatnya yang salah, ataukah tokonya yang sudah tutup. Mengapa itu terjadi kepadaku...

Okey daripada sia-sia, aku kembali mencari warung kopi. Muncul nama klinik kopi di aplikasi. Lokasinya lumayan dekat dengan toko komputer palsu tadi.

Sambil hujan-hujanan dengan si mbah driver gojek, akhirnya sampai ke lokasi. Dengan mengandalkan google map, lokasi terpelosok dapat dicapai.

Lokasi Klinik Kopi cukup tersembunyi. Berada di sebuah gang kecil yang dibatasi tembok tinggi. Berjejer dengan rumah rumah penduduk. Tidak ada nama Klinik Kopi di depan rumahnya. Yang ada hanya plang 'open'. Halaman depan yang rimbun menghiasi kesunyian tempatnya.

Setelah bertemu dengan pemilik kedai sekaligus baristanya, suasana kesunyian itu hilang. Sambutan hangat sehangat kopinya mengurangi dinginnya senja itu. Sebelum memesan diberi nomor antrian. Sang barista heran mengapa saya datang sendiri. Mungkin di sana tempat ngopi untuk rame-rame. Apakah memang ngopi itu harus rame-rame?

Setelah antrian dipanggil, bertemulah dengan si barista,, ditanya namanya siapa, dari mana, suka kopi apa... Awalnya saya agak heran, mengapa harus ditanya nama. Owh, ternyata buat struk pembelian. Baru kali ini toko memiliki struk yang dikirim ke hendpon. Saya lupa nanya dia pakai aplikasi apa. Bisa tuh buat aplikasi gudang dikantor. Lansung cetak dan dikirim ke bos barang masuk keluar.



Ada berbagai macam biji kopi yang ditaruh di toples. Lupa namanya apa. Lalu aku pilih bourbon merah. Katanya rasanya seperti ada coklat2nya gitu.

Bubuk kopi tadi dihaluskan. Tidak terlalu halus. Kemudian ditaruh di atas saringan, lalu disiram air panas. Rasanya unik. Tidak terlalu pahit. Yang jelas beda jauh rasanya dengan kopi sachetan.

Setelah nyantai selama kurang lebih 15 menit, langsung cus menuju Nakamura. Lokasinya dipinggir jalan ring road.

Nakamura di Yogya beda dengan di Banjarmasin. Tarifnya lebih mahal dari Nakamura Banjarmasin. Kartu member tidak bisa dipakai di sana. Jadinya tidak dapat diskon member. Hanya berlaku sistem poin, dengan gratis terapi setelah kuponnya dibubuhi cap sampai penuh.

Sekitar pukul delapan kembali meluncur ke hotel. Teman-teman sudah menunggu di jajanan sekitar Malioboro.










Ada berbagai macam dagangan. Dari kuliner, pakaian, hingga tukang pijat. Pengamen juga ada. Ornamen-ornamen unik khas jawa, patung singa dari aluminium jug menghiasi trotoar.

----

Keesokan harinya. Sebelum ke bandara mampir dulu di prabik bakpia 25. Lokasinya tersembunyi. Dengan nuansa bangunan belanda dan keraton. Cocok sekali untuk scene drama kolosal. Harga bakpia beraneka ragam, ada yang 30rb sampai 45 rb. Untuk yang reguler, tersedia rasa coklat, keju, dan kacang hijau. Untuk yang premium, tersedia rasa durian, coklat, dan lain-lain.

---
Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya kami masuk ke dalan pesawat. Jarak tempuh dari ruang tunggu ke pesawat tidak terlalu jauh. Penumpang naik secara teratur.

Setelah satu jam, barulah pesawat meluncur. Cuaca agak berawan sehingga terasa sekali getaran dan goncangan di dalam pesawat.

Hal serupa juga terjadi ketika pesawat hampir tiba di Banjarmasin. Cuaca berawan. Goncangan sangat terasa ketika pesawat menembus awan. Pesawat beberapa kali melakukan maneuver berputar untuk menunggu pesawat di depannya mendarat.

---
Setibanya di bandara, mobil jemputan langsung datang. Kami mampir di sebuah kedai nasi. Menunya nasi dengan lauk bebek. Bumbunya gurih sekali. Bikin ketagihan. Reviewnya sudah kuberi bintang lima di google map.

Sunday, 13 January 2019

Langit Hitam


Dengan segala kegelapannya
Berhiaskan gemerlap bintang bintang
Akankah terus menjadi hitam?

Tidak...
Dia akan berubah menjadi biru
Ketika sang matahari muncul
Kemanakah bintang-bintang itu?

Tidak terlihat bukan berarti tidak ada
Seperti halnya pemakai kerah hitam
Terlihat tidak kotor bukan berarti tidak kotor
Berbeda dengan kerah putih
Selalu terlihat kotor di sore hari
Perlu baju baru untuk besok hari
Kembali berjuang untuk berkarya

Wednesday, 15 August 2018

Autobiografi

AUTOBIOGRAFI HARMIYONO UTOMO

Nama saya Harmiyono utomo. Dulu waktu kecil sering dipanggil Dede. Sehingga sewaktu SD nama lengkap jadi ditambang Ade di depannya. Jadi panjangnya Ade Harmiyono Utomo.

Sejak kecil, saya dibesarkan orang tua saya yang bernama Endang Murtini, dan suaminya yang bernama Soeparmo Rambat. Dengan perhatian yang cukup baik, saya dapat tumbuh besar hingga sekarang.

Awal perjalanan hidup saya dimulai dari sebuah kota di Aceh, Lhokseumawe, pasa tanggal 25 Mei 1986. Waktu itu adalah hari minggu. Kata bapak saya, arti dari Harmiyono Utomo adalah, Har itu, Mi itu minggu, Yono itu ada, Utomo itu Utama. Jadi arti nama saya adalah ada hari minggu yang utama.

Setelah satu bulan saya lahir, bapak memutuskan untuk berhenti bekerja di sebuah perusahan exportir udang, dan pindah ke Banjarmasin untuk berwiraswasta. Namun usaha itu tidak berjalan mulus. Bapak berhenti berusaha tambak udang sekitar tahun 2000an. Jadilah ibu yang mencari nafkah. Dari tukang jahit, berdagang peyek, hingga pedagang makanan di pasar.

Banyak pengalaman yang tidak terlupakan sewaktu kecil, dari TK sampai beranjak SMA. Dari tangan patah gara-gara bermain petak umpet, sampai piknik ke gunung bersama teman sekomplek. Bercerita tentang masa lalu itu rasanya seperti memutar waktu dan kembali ke masa lalu.

Pengalaman di SD yang tidak terlupakan adalah sewaktu berkumpul bersama teman-teman. Bermain kelereng, petak umpet, lempar bola kasti, main tali karet, pesantren kilat, menjelajah kecamatan, bertemu kucing peliharaan yang dibuang ibu, dan masih banyak lagi. Hal yang menyedihkan adalah ketika acara perpisahan kelulusan.
Beranjak SMP di tahun 1998. Pada waktu inilah, nama saya berubah jadi Harmiyono Utomo, karena menyesuaikan dengan akta kelahiran. Jadinya saya sendiri agak canggung ketika dipanggil Harmi, ada empat orang teman SD yang masuk SMP yang sama, mereka tetap memanggilku dengan 'Ade'. Jadinya teman-teman yang lain pada ikutan.
Hal yang berkesan waktu itu adalah ketika mengerjakan tugas mencangkok tanaman. Waktu itu saya mencangkok pohon mangga punya tetangga. Sampai sekarang pohon cangkokan itu masih tumbuh di halaman depan rumah.
Beranjak SMA di tahun 2001, sebagian teman satu angkatan SMP masuk ke SMA yang sama dengan saya. Jadinya nama 'Ade' kembali menjadi nama panggilan saya. Pengalaman yang menyenangkan sewaktu SMA adalah sewaktu di kelas 2-4. Teman-teman pada gokil. Hingga sewaktu acara perpisahan kakak kelas kami membuat kabaret.
Kegalauan muncul ketika mendekati kelulusan SMA. Bingung menentukan masuk perguruan tinggi, ataukah bekerja. Kondisi keuangan keluarga sangat terbatas. Ibu tidak mungkin bisa membiayai untuk saya melanjutkan ke perguruan tinggi. Sempat berniat untuk mendaftar di STAN, namun nilai tidak mencukupi untuk memenuhi persyaratannya.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil kursus Bahasa Inggris dan komputer, di sebuah lembaga kursus. Tidak ada teman lama saya di sini. Nama panggilan saya pun berubah jadi Yono, karena menurut saya panggilan 'Ade' untuk saya sudah tidak relevan lagi. Awalnya agak canggung, namun akhirnya terbiasa hingga sekarang. Saya seperti memiliki jiwa yang baru, dunia yang baru.

Alhamdulillah ilmu yang saya dapatkan bisa bermanfaat sampai sekarang. Saya bisa mengoperasikan komputer karena bahasa Inggrisnya, bukan karena ilmu komputer. Keuntungan lainnya adalah saya dengan leluasa dapat mengerti cerita drama-drama Jepang favorit dari subtitlenya yang kebanyakan adalah ditulis dalam bahasa Inggris.
Di tahun 2006 saya baru bisa menggunakan browser. Terima kasih kepada sahabat saya yang mengenalkan saya perbedaan antara search engine dengan address bar, sehingga saya sekarang dengan leluasa googling.
Di Tahun 2006 itu juga saya mulai bekerja di sebuah kantor pemerintahan, Distrik Navigasi Kelas II Banjarmasin. Sebuah instansi di bawah Kementerian Perhubungan yang menangani dan mengelola sarana bantu navigasi pelayaran.

Hingga beranjak ke Tahun 2009. Saya berteman di Facebook dengan seorang yang bernama Ijah. Awalnya berteman biasa. Tiba-tiba dia mengaku-ngaku sebagai kakak kandung saya. Karena rasa tidak percaya, saya tidak membalas semua pesan-pesannya. Hingga akhirnya dia bilang bahwa saya mempunyai tanda lahir. Pada saat itu saya kaget. Siapa dia? Bagaimana dia bisa tahu tentang tanda larih? Jika benar saudara, mengapa selama ini Ibu tidak pernah menceritakan hal itu? Akhirnya saya menguatkan diri untuk menelpon. Dia bilang bahwa orang tua yang ku kenal selama ini bukanlah orang tua kandung. Sontak saja saya kaget bagaimana mungkin orang tua yang saya kenal selama ini adalah bukan ibu kandung. Kemudian telepon disambungkan ke Ibunya. Saya masih tidak percaya dan berbicara seadanya. Ibu bilang bahwa sewaktu di Aceh dulu keluarga tidak punya cukup biaya, sehingga saya sengaja dititipkan ke Ibu Endang untuk dirawat dan dibesarkan dengan baik. Setelah mengetahui hal itu saya tetap menjaga kerahasiaan dan tidak menceritakan kepada Ibu Endang.

Tahun 2010, saya memberanikan diri untuk pergi ke Tulung Agung untuk menjumpai ibu kandung masih tanpa sepengetahuan Ibu Endang. Setelah bertemu langsung kedua orang tua kandung, Ibu menangis dan memeriksa tanda lahir itu.

Setelah pertemuan itu, saya baru tahu saya adalah anak ke-12 dari 12 bersaudara. Mereka ada di Aceh, Medan, Depok, Tulung Agung, dan Ambon. Kakak pertama dan keempat meninggal di Aceh karena kecelakaan. Yang ada sekarang tinggal sepuluh orang termasuk saya. Tahun 2011 Ayah angkat saya di Banjarmasin berpulang, bahkan saya belum sempat bercerita tentang hal itu.

Setelah dua tahun, akhirnya saya bercerita kepada keluarga Ibu Endang, dan mereka membenarkan tentang hal itu. Ibu Endang pun sekarang sudah mengetahui bahwa saya sudah mengetahui itu. Alhamdulillah pada tahun 2013 saya bisa mempertemukan kedua ibu saya di Depok, di rumah kakak saya yang kedua.

Tahun 2015 saya diperkenalkan dengan seorang wanita oleh seorang pengajar pemetaan yang merupakan teman dia sewaktu SMP. Waktu itu saya sedang mengikuti latihan privat pemetaan dan topografi di Bogor.

Tahun 2016 akhirnya saya menikah dengan wanita itu, dan sekarang dikaruniani seorang anak perempuan lucu yang bernama Haruna Maheswari. Semoga nanti dia senantiasa memberikan kebahagian orang-orang disekitarnya, seperti bidadari musim semi yang senantiasa menghijaukan daun di sepanjang tahun.

Salam,
HARMIYONO UTOMO

#alineaku #onlinekonselor

Saturday, 2 June 2018

Survey pemasangan RO

Di tahun anggaran 2018 ini, direncanakan pemasangan RO di lima lokasi menara suar yaitu, Tanjung Padadatua, Tanjung Puting, Tanjung Kunyit, Pulau Samber Gelap, dan Pulau Sambar Galang.
Kebetulan saya ditugaskan untuk survey ke lokasi Tanjung Padadatua dan Tanjung  Puting.

Friday, 23 February 2018

Aflosing Barat Januari 2018

Seperti kegiatan-kegiatan aflosing sebelumnya, aflosing kali ini menggunakan KN. Altair yang baru selesai docking bulan Desember 2017 tadi. Performa mesin baik, kecepatan stabil 10-12 knot.

Cuaca yang tidak bersahabat tidak menyurutkan niat para petugas untuk bekerja. Saat itu sedang musim barat. Ombak dan angin kencang menjadi teman seperjalanan.

Destinasi pertama adalah Menara Suar Tanjung Padadatua. Mensu ini tergolong baru, didirikan pada tahun 2010.

Tuesday, 20 February 2018

NOBUNAGA Concerto



Salah satu quote yang menjadi favorit saya dari Nobunaga : "Hal penting yang tidak berubah dari jaman ke jaman adalah kehidupan".

Cerita fiktif yang diawali dari perjalanan waktu seorang anak SMA, yang tiba-tiba berada terlempar ke abad 16. Saat itu sedang terjadi peperangan. 

Aflosing Perdana KN. Kunyit

Setelah beberapa bulan menunggu peresmian pak direktur kenavigasian, barulah KN. Kunyit bisa dioperasikan. Perlu diketahui sebelumnya tentang KN. Kunyit adalah sebuah kapal negara perambuan yang dibuat oleh negara untuk direktorat kenavigasian dalam rangka memperlancar operasional kenavigasian. Bentuk fisiknya seperti kapal kapal induk perambuan pada umumnya, namun agak lebih besar dari KN. Altair. Terasa sekali efek goyangan akibat gelombang laut sedikit berkurang dibandingkan KN. Altair. Jadi tidak mabok laut.
Tujuan pertama adalah ke muara sungai mentaya. Pemasangan pelsu hijau dan merah. Alur sampit ini lumayan ramai, sehingga sering terjadi tabrak lari yg menyebabkan pelsu hancur. Selain itu karena arus yg lumayan deras di musim barat dan tenggara.
Tanggal 29 nopember terjadi kerusakan pada crane lelangon. Teknisi pabrik datang tanggal 1 Desember. Kapal standby di muara sampit. Kerusakan terjadi ketika crane akan mengangkat ballast pelsu. Kondisi crane dalam posisi terangkat ke atas. Kapal tidak berani mengambil resiko berlayar dengan posisi crane seperti itu.
Hingga tanggal 1 desember telah datang. Kapal masih berada dimuara. Kandas. Maklum gpsnya rusak dan echosoundernya juga rusak. Tidak bisa mengukur posisi dan kedalaman. Menunggu waktu jam 2 siang air pasang agar bisa olah gerak. Sekitar jam 16.00 sampai di depan Samuda. Menunggu hujan reda untuk ke pelabuhan membeli lumpsump. Tiga hari di laut membuat lapar ABK. Saya juga.
Besoknya mulai perawatan di ramsu penuntun depan samuda, depan dan belakang babirah. Kondisi air surut. Ramtun depan samuda masih bisa dijangkau dengan speedBoat. Lokasinya masih berada di daerah aliran sungai. Setelah satu jam perbaikan langsung menuju ramtun depan babirah. Air surut sehingga tim harus mencari panajak untuk menahan speed boat. Kami menuju kampung sekitaran rambu. Kebetulan sekitaran babirah itu tempat penyeberangan feri klotok. Kami meminjam parang seorang warga untuk memotong bambu. Lingkungan sekitar yang sejuk dikelilingi kebun kelapa.
Selesai mendapatkan bambu panajak kamj segera kembali ke speedboat untuk menuju ramsu depan babirah. Kondisi air surut sehingga kami harus turun melewati lumpur.
Selanjutnya langsung menuju babirah belakang. Lampu yang dipasang adalah wealth marine dengan periode 1T-1G.
Selesai pemasangan langsung menuju kapal.
Kegiatan selanjutnya memasang pelsu hijau di muara sampit. Kerja sama yang baik abk dan petugas bengkel sehingga pekerjaan dapat terselesaikan.
Esok harinya kami sampai di mensu Tanjung Pandan, selanjutnya melakukan pemaSangan kembali di Pelsu Hijau Kumai. Selanjutnya pengedropan BBm untuk mensu tanjung puting dan tanjung Matua.

Pelayaran selanjutnya menuju